Tuesday, October 21, 2014

Aku yang 11 tahun yang lalu

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Dipertemukan aku dengan dua orang cikgu dari alma mater ku pagi tadi. Bila ditanya tahun SPM baru kusedar sudah 11 tahun berlalu. Cikgu masih nampak sama, masih mengajar di sekolah yang sama. Sedangkan pelajarnya berserakan di muka bumi, mengejar cara hidup yang tersendiri. Dan kalau ada masa dan jodoh, jalan hidup menemukan kita kemvali. Tapi pada setiap masa itu, kita masih murid dan mereka masih guru.

Ditanyakan, mahukah kembali ke sekolah bercakap dengan adik-adik sebagai motivasi. Lalu terkenangkan dori yang 11 tahun duli, ilmunua dan pengalamannya kurang sikit, tapi betapa optimisnya memandang ke depan. Kemahuanku jelas walau jalannya samar. Aku mahu jadi seorang doktor dan jika dapat jadi doktor aku telah berjaya. (Lebih indah lagi jika selepas sekolah bisa temui cinta dan bahagia selamanya <- pemikiran 17 tahun)

Seusai tamat persekolahan, diberikan beberapa peluang dan pilihan. Tidak kurang juga beberapa penolakan. Akhirnya jalan yang jelas terbentang dan aku memilih jalan itu dan Alhamdulillah impian ku tercapai. Dan apa yang menanti di sebalik sebuah impian?

Di sebalik impian yang yercapai terbentang lembah kemungkinan yang luas. Di datarannya tercambah impian-impian baru, jalan - jalan baru pun terbuka. Doktor apa? Doktor yang bagaimana mahu aku jadi? Setinggi mana lagi harus aku kejar? Sedlam mana harus aku pergi? Dan dimensi- dimensi baru terbuka lagi, keluarga semakin membesar, tanggungjawab kian bertambah, minat yang terpendam, bakat yang minta diasah, keinginan untuk menjelajah dunia, harapan untuk berbakti dan meninggalkan sebuah legasi... semuanya bercampur baur seperti ramuan dalam kendongan Musang Berjanggut. Aku harus menyusun hidupku dengan jelas dan membuang elemen yang tidak perlu.

Mujur ada pengalaman mengajarku. Impian aku yang 11 tahun lalu sememangnya begitu ringkas, tapi kemahuanku tinggi maka walaupun ada payahnya Alhamdulillah dipermudahkan juga. Kepayahan, kekecewaan dan waktu-waktu yang menyedarkan aku kekerdilan diri tetap ada dan Alhamdulillah, aku selalu didampingi sahabat dan keluarga. Terima kasih.

Dan malam ini, walaupun keletihan, aku harus bersemangat meneruskan usaha untuk menjadikan hidup ini bermakna.

-
drMyrisstyca- 21 oct 2014

Thursday, December 5, 2013

KITA

Assalamualaikum dan salam sejahtera semua. 

         Kelmarin ada menulis status panjang di facebook. Lalu teringat pulak tentang blog yang neglected ni. Apa yang ditulis sini mudah nak diakses kembali. Maka yang dirasa dapat disimpan bukan sekadar di kotak memori. Tapi boleh dilewati dan dirasai kembali.

         Yang tercatat di bawah ini sesuatu yang dirasakan satu ketika dulu. Bila difikir biarlah konteksnya tidak disertakan kerana ia mungkin akan mengekang pengajaran bila diikat dengan satu kejadian saja.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
KITA

Kita bagaikan satu badan. Kau dan aku, kita bernafas dengan udara yang sama. Disuburi dengan darah yang sama. Mungkin pada manifestasi kita berbeza, tapi pada dasarnya kita dibina dengan zarah dan zat  yang sama. Walau kita punya cara, rasa, tempat dan fungsi sendiri, badan ini punya hati yang menyatukan. Punya sistem saraf yang menghantarkan isyarat, aku sakit atau kau yang sakit.

Kata orang dulu dulu, cubit paha kanan paha kiri pun terasa. Ada benarnya, kalau kaki kiri sakit bukankan kaki kanan juga yang perlu menampung bebannya ? Kita ini terikat dengan asas yang sama maka kitalah yang perlu bersatu sampai sembuh. Bolehkan si kaki kanan merajuk dan tak mahu membantu si kaki kiri ? Bagaimana badan sebagai satu entiti nak bergerak bila itu terjadi ? Mahukan kita semua berdiam diri dalam kelumpuhan ?

Misalan pula seperti  tubuh diuji dengan diabetes tahap teruk hingga sarafnya tak bisa menyampaikan maklumat dari hujung kaki. Maka kaki yang terpijak duri merana sendiri... tanpa pengetahuan sang kepala, sang hati dan yang lainnya. Jika tak tahu... tak adalah sang tangan yng datang membantu.Pabila ia berdarah ia mengalir tak berhenti. Lantas nanti lukanya akan parah bernanah mereput sepi.

Apa pula terjadi kalau seluruh tubuh sedar, tapi sang kepala buat tak endah, "Ah, cuma si kaki yang terluka. Biarkan saja ia terlalu kecil untuk difikirkan, kalau jantungku yang sakit barulah serius.". Sang tangan  pula malas merawat, sang kaki sebelah lagi pula tak mahu berkongsi bebanan. Tanpa meraka semua sedar, luka nanah yang kecil itulah jika dibiarkan akan menjadi racun bisa yang meresapi setiap anggota tubuh. Bukan saja kelumpuhan yang akan datang, kematian pun boleh terjadi.


Kita bukan begitu. Kita satu badan yang teguh utuh, saling menyokong. Aku akan selalu menyokong kau. Hanya perlu hantarkan isyarat.

Tuesday, July 17, 2012

Dengan Nama Allah...

Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamaualaikum :)
Saya mulakan dgn bismillah hari ni. We learnt about it since kindergarten... to start things with bismillah. One of simple things that we tend to forget. Only that its not that simple... its too huge to be simple. To feel wholeheartedly and to declare... oh Im doing this for with Allah's name, its like doing what we should do, to live and to die for him. And what more fitting than to always remind ourselves in our intention?

Sabda Rasulullah s.a.w yang ertinya, " Tiap-tiap pekerjaan yang dicita-cita yang tiada dimulai padanya dengan Bismillahirrahmanirrahim, maka iaitu terpotong, yakni tiada berkat padanya."

So, start your day with bismillah... and be thankful to be alive for another day. Start every things, small or big with bismillah. for doctors like me... remember to say it before every procedures, remind ourselves why we are doing the job, its not only cause a job that we are paid for, we should be consciously be doing things for Allah... can you see, that way we become more "ikhlas"? Will you "main-main" or "malas-malas" for Allah? Personally when i remembers and say bismillah out loud in front of patient before doing things eg. insert branula, take blood or do VE... 1. I personally felt ready, not in a rush, like saying bismillah served as a flagpost, it marks a start. 2. The patient seems more calm, somehow, perhaps for the first reason, and perhaps for the fact that they are reminded of Allah too?

Berani ke... say bismillah and sengaja do things sloopily? Not to standard? Its like implying im doing sloopy thing in the name of God.  If we are so used to say bismillah... I can see that we will strive to do our best in everything we do. And... if we say bismillah before everything takkan kita nk buat perkara berdosa pulak kan? Takkan you nk start perkara durjana/dosa dgn bismillah. Preposterous! So can you see how simply remembering Allah can dramatically change you? Best giler kan!

Okay... simple je tonight. Ingatan buat diri sendiri je ni.  Anything nk tambah or tegur just do it. Dah lama tak ke majlis ilmu, agak kering jugak dah ni.

See you all again later! Insya Allah!